Home Berita Rijalul Ansor, Ajang Ideologisasi Kader Muda NU

Rijalul Ansor, Ajang Ideologisasi Kader Muda NU

0
509
“Rijalul Ansor” Selapanan Rutin Malam Jumat Legi di Masjid Al-Ikhlas desa sumanding

Jepara – Pengurus Gerakan Pemuda (GP) Ansor Ranting I Desa Sumanding Kembang Jepara gelar acara “Rijalul Ansor” Selapanan Rutin Malam Jumat Legi di Masjid Al-Ikhlas desa setempat. Selain bertujuan untuk memudahkan komunikasi antar pengurus, program ini juga diharapkan mampu menjadi arena penguatan ideologi kader-kader muda “nahdliyyin” dari serangan kelompok Islam di luar paham ahlu sunnah wal jamaah (aswaja).

“Kegiatan Rijalul Ansor perdana ini merupakan program kerja pengurus baru dalam rangka ideologisasi. Kita adalah benteng terakhir penjaga NKRI. Jangan sampai desa ini disusupi gerakan Islam radikal yang bertentangan dengan paham aswaja an-nahdliyyah,” ujar Ketua GP. Ansor Ranting I Desa Sumanding, Ahmad Rifai, Kamis (25/1/2018).

Seraya meminta dukungan semua pihak, Rifai dalam sambutannya menambahkan bahwa program kerja prioritas pengurus pada periode ini menyasar tiga aspek, yaitu ideologisasi, kewirausahaan, dan hubungan sosial kemasyarakatan.

Mewakili Ketua Umum PC. GP. Ansor Jepara, Harun Salim memberikan motivasi kepada peserta yang hadir agar tidak patah semangat dalam membesarkan NU secara umum dan Ansor pada khususnya. “Jadi Ansor itu kerjanya cuma tiga. ‘Ngader’, ngaji, dan ‘mbogawe’ (baca: kerja),” kata alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua GP. Ansor Jepara bidang IPTEK dan Kajian Strategis.

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan diskusi interaktif bertajuk “NU dan Ke-aswaja-an” yang dipantik oleh Ahmad Saefudin, dosen Unisnu Jepara. Salah satu poin penting yang disampaikan ialah mewaspadai fenomena penggunaan media sosial yang semakin liar dan sulit dikendalikan. Imbasnya, warga nahdliyyin mulai dari kalangan muda hingga tua terperangkap dalam kondisi kebimbangan. Mereka sudah tidak bisa lagi membedakan konten tulisan yang bersumber dari media NU dengan non-NU. “Sebagai generasi NU milenial, kita perlu hati-hati dalam memanfaatkan jejaring media sosial. Jangan sampai mesin pencari semacam ‘google’ menggantikan peran kiai dan guru ngaji yang ada di Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ) dan madrasah diniyah milik NU,” ucapnya di tengah-tengah sesi diskusi.

Puluhan warga antusias menghadiri agenda tersebut yang terdiri dari Pengurus Ranting NU Desa Sumanding, Pimpinan Ranting GP. Ansor Wedelan Bangsri, Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP. Ansor Kecamatan Kembang, Tim KKN Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) dan Pimpinan Cabang (PC) GP. Ansor Kabupaten Jepara. (AS/AM)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here